Puisi Bahasa Jawa Tentang Cinta "Wus Kulina" | Terjemahan dan Makna
Dalam bahasa Jawa, puisi dikenal dengan sebutan geguritan. Berikut ini disajikan contoh geguritan dengan tema percintaan atau romansa. Untuk menambah wawasan pembaca, terjemahan dan maknanya dalam bahasa Indonesia juga turut disertakan.
1. Geguritan "Wus Kulina" oleh Bahtiar
![]() |
| Ilustrasi pasangan tokoh wayang Arjuna dan Srikandi dalam geguritan "Wus Kulina" karya Bahtiar |
Wus Kulina
Dening : Bahtiar
Wus kulina,mangurip kaya ing praja Ayodya.
Saumpamane kula Sri Rama,
sliramu ya mesthi Dewi Shinta.
Sanadyan wonten ing Alengka,
Anoman Duta tanpa guna,
kanggo nyingkirake sang Rahwana,
yeku wong kang dadi katiga,
ing crita katresnan punika,
merga mung wonten sliramu lan kula.
Wus kulina,
mangurip kaya satriya panengah Pandhawa.
Saumpamane kula Raden Arjuna,
bakal rentang sang busur Gandiwa.
Gegaman kaliyan panah Pasopati,
tinusuk lan tumancep sajroning ati,
kanggo pratandha bukti,
babagan tresnanipun ingkang suci,
mung kagem wong sawiji,
yeku sliramu, Dewi Wara Srikandi.
Witing tresna jalaran saka kulina,
mekaten pangendhikane wong tuwa.
Kayata ing geguritan punika,
sliramu lan kula dadi tresna,
merga kaya Rama lan Shinta,
merga kaya Srikandi Arjuna.
2. Terjemahan Geguritan "Wus Kulina"
Secara harfiah, geguritan ini dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.Sudah Terbiasa
Oleh : Bahtiar
Sudah terbiasa,hidup seperti di kerajaan Ayodya.
Misalnya aku Sri Rama,
kamu pasti Dewi Shinta.
Meskipun di kerajaan Alengka,
Anoman Duta tidak berguna,
untuk menyingkirkan sang Rahwana,
yaitu si orang ketiga,
di cerita percintaan itu,
karena hanya ada kamu dan aku.
Sudah terbiasa,
hidup seperti satria penengah Pandhawa.
Misalnya aku Raden Arjuna,
akan terentangkan sang busur Gandiwa.
Bersenjatakan dengan panah Pasopati,
akan tertusuk dan tertancap sedalamnya hati,
sebagai tanda bukti,
tentang cintaku yang suci,
hanya kepada satu orang,
yaitu kamu, Dewi Wara Srikandi.
Cinta hadir karena terbiasa,
seperti itulah perkataan orang tua.
Seperti pada puisi tersebut,
kamu dan aku menjadi saling cinta,
karena seperti Rama dan Shinta,
karena seperti Srikandi Arjuna.
Keterangan :
- Ayodya : Kerajaan yang dipimpin oleh Sri Rama
- Alengka : Kerajaan yang dipimpin oleh Rahwana
- Panah Pasopati dan Busur Gandiwa : Sepasang senjata milik Raden Arjuna
3. Makna Geguritan "Wus Kulina"
Sejatinya, geguritan ini memiliki makna yang sederhana, yaitu penjabaran dari ungkapan bahasa Jawa "witing tresna jalaran saka kulina" dengan sentuhan analogi cerita dan narasi metaforis. Di awal proses pembuatannya, pikiran sang penulis tengah bersinggungan dengan ungkapan tersebut, hingga tercetuslah ide untuk mengelaborasikannya ke dalam sebuah geguritan.
Ungkapan "witing tresna jalaran saka kulina" menjelaskan bahwa cinta muncul dari kebiasaan. Seperti pada bait pertama dan kedua geguritan ini, penulis menceritakan dua insan yang menjadi saling mencintai karena terbiasa hidup bersama, sebagaimana pasangan tokoh wayang Rama dan Shinta. Cerita cinta keduanya dianalogikan dengan kisah cinta pasangan tokoh wayang tersebut, meskipun dengan perubahan pada bagian klimaksnya. Dalam sumber analoginya, penulis mengisahkan bahwa Anoman tidak menyingkirkan Rahwana, karena keduanya dianggap tidak termasuk dalam cerita. Hal ini mencerminkan bahwa perjalanan cinta kedua insan tersebut berlangsung sangat damai dan harmonis, tanpa kehadiran pihak ketiga.
Pelajari lebih lanjut tentang analogi disini! (Target dan sumber suatu analogi)
Catatan :
Perubahan cerita oleh penulis semata-mata dimaksudkan untuk kepentingan pembuatan geguritan, tanpa maksud untuk benar-benar mengubah cerita aslinya.
Cerita cinta kedua insan tersebut masih berlanjut pada bait ketiga dan keempat. Pada bagian ini, mereka diceritakan menjadi saling mencintai karena terbiasa hidup bersama sebagaimana pasangan tokoh wayang Arjuna dan Srikandi. Penulis merepresentasikan keduanya melalui pasangan tokoh wayang tersebut. Meskipun demikian, berbeda dengan bait pertama dan kedua, dalam bait-bait ini penulis tidak menerapkan analogi cerita, melainkan menggunakan narasi metaforis dengan tokoh Arjuna dan Srikandi sebagai elemen pelengkapnya.
Pelajari lebih lanjut tentang narasi metaforis disini!
Metafora "panah asmara menembus hati" tentu sudah tidak asing bagi banyak orang. Dalam bait-bait ini, penulis menarasikan metafora tersebut dengan tokoh Arjuna sebagai subjek dan Srikandi sebagai objeknya. Narasi ini mengisahkan Arjuna, sang pemanah sakti yang menarik busur Gandiwa-nya. Dengan anak panah Pasopati sebagai representasi dari panah asmara, ia membidik hati targetnya, yaitu Dewi Wara Srikandi. Anak panah itu terbang melesat dari busurnya, berhasil tepat mengenai, menusuk, dan tertancap di sasarannya.
![]() |
| Ilustrasi metafora "panah asmara menembus hati" dalam puisi "Wus Kulina" karya Bahtiar |
Makna metafora tersebut diinterpretasikan sebagai perasaan cinta yang tulus dan suci kepada seseorang. Panah asmara yang menusuk jauh ke dalam kalbu melambangkan cinta yang mendalam dan tak terelakkan, menjadikannya metafora yang sangat sesuai dengan tema geguritan ini. Selain itu, pemilihan Arjuna sebagai subjek dirasa paling tepat mengingat kepemilikannya atas senjata panah Pasopati dan busur Gandiwa. Dalam cerita Mahabharata, tokoh Srikandi sendiri diceritakan sebagai istri dari Arjuna, sehingga menjadikannya sangat relevan sebagai objek narasi.Catatan :
Adegan dalam narasi tersebut hanyalah rekaan penulis untuk kepentingan pembuatan geguritan. Adegan itu tidak benar-benar terjadi dan tidak layak dilakukan di dunia nyata.
Bait kelima merupakan kesimpulan dari bait-bait sebelumnya. Pada bagian ini, secara gamblang dijelaskan bahwa cinta dapat terjalin di antara dua insan karena terbiasa hidup bersama, seperti pasangan tokoh wayang Rama dan Shinta, serta Arjuna dan Srikandi.


Posting Komentar untuk "Puisi Bahasa Jawa Tentang Cinta "Wus Kulina" | Terjemahan dan Makna"